Senin, 20 Januari 2025

Memberikan Pendidikan Tentang Seks Kepada Anak Sejak Dini

Memberikan Pendidikan Tentang Seks Kepada Anak Sejak Dini.

Oleh Marhani Kani

Kali ini saya akan menulis hal yang serius dan mungkin sebagian orang, ini adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Memberikan pendidikan seks peda anak sejak dini adalah hal yang sangat penting. Kenapa demikian? Ya, karena kita lihat fenomena yang sering terjadi tentang pelecehan seksual kepada anak di bawah umur. Bahkan terkadang orang terdekat yang melakukannya. Nauzubillah min zalik. 

Oleh karena itu wahai para orang tua, ini sangat penting kita beritahukan kepada anak. Ini bukanlah hal yang tabu untuk diberitahukan kepada anak. Sejak dini mereka sudah harus tahu. Maaf sebelumnya bukannya saya mengajari para orang tua, tapi saya hanya mengajak dan sekadar mengingatkan. Ya, diri ini masih anak kemarin sore. Ana dara mulampekke. Heheh... 

Kekerasan seksual atau pelecehan seksual pada anak terjadi salah satunya karena ketidak tahun mereka. Maka dari itu orang tua harus memberitahukan. Misalnya apa saja dan bagian apa saja yang tidak boleh di sentuh orang lain pada dirinya. Bahkan jika ingin mencium anak atau memeluknya biasakan meminta izin padanya biar tertanam dibenak anak bahwa orang tuanya saja minta izin, maka orang lain tidak boleh sembarangan memeluk dirinya. Ini terdengar remeh, tetapi dampaknya sangat berarti. Selain itu, hal ini juga dapat membuat anak merasa dihargai, mereka akan merasa punya hak atas dirinya. Meskipun anak-anak belum mengerti akan hal itu, akan tetapi kita sudah menanamkannya sejak dini bahwa mereka berharga dan memiliki hak untuk dihargai.

Saya melakukan hal tersebut kepada ponakan saya.

"Boleh peluk?"

Kalau mereka bilang iya, barulah saya peluk. Kalau mereka bilang tidak, saya tak akan memaksanya. 

Ya, terkadang karena kita gemes, meskipun anak tidak mau dipeluk atau dicium, tapi kita tetap memaksanya. Jangan, ya!

Pernah juga saya mengatakan ini ke ponakan saya, "Queen, ini tidak boleh ya di pegang sama orang," kataku sambil menunjuk bagian yang terlarang.

"Tidak boleh juga dicium atau dipeluk sembarang sama orang, ya." 

"Iyye, Ante Anyi."

Nah, suatu ketika kami bepergian lalu si Queenza ini dititipkan ke sepupu perempuan saya. Nah, pas pulang sepupu saya cerita. Kalau si Queenza ini dimandikan sama dia, Queenza pun menolak untuk dibersihkan di area yang saya maksudkan.  Ternyata dia benar-benar menyimak apa yang saya katakan.  

Nah, untuk anak laki-laki juga kita lakukan hal yang sama. Beritahu mana yang boleh disentuh orang lain dan yang tidak boleh. Selain itu juga mereka harus diberitahu bahwa tidak boleh sembarang menyentuh tubuh anak perempuan atau saudara perempuannya sendiri (kalau punya saudara perempuan).

Jadi sesederhana itu saja ya, Bunda. Namun,  ini sungguh sangat berarti. Usahakan terus mengulangnya, biar mereka ingat. Mari kita jaga dan lindungi anak-anak kita. Jangan sampai jadi korban para predator atau penjahat anak.

Minggu, 30 Oktober 2022

Cantik Itu Perlu, Tapi Sehat Itu Penting dengan Glazed Skin B Erl

  


Siapa sih yang tidak  menginginkan kulit cantik? Tentu saja, semua orang menginginkan kulit cantik, baik itu laki-laki maupun perempuan, muda ataupun tua. Sehingga semua pada  berlomba-lomba mempercantik diri. Akan tetapi, terkadang banyak yang menggunakan cara instant untuk mendapat kulit cantik tanpa memperdulikan kesehatan. Perlu kita ingat bahwa segala sesuatu itu butuh proses, cantik pun demikian. 

Untuk mendapatkan kulit cantik dan menawan atau istilah kerennya nih glazed skin kita perlu merawat kulit kita dengan benar. Nah, ada beberapa cara atau tips cantik dan sehat agar kulit menjadi glazed:

  • Memperhatikan pola makan yang sehat.

Loh, apa hubungannya dengan pola makan? Ya, pola makan yang tidak sehat alias tidak benar, itu berpengaruh pada kesehatan kulit. Misalnya nih, kita banyak makan makanan yang berminyak apa lagi seperti  junk food itu bisa menimbulkan jerawat pada kulit wajah, makanan cepat saji, coklat, kacang-kacangan. Nah, untuk mendapatkan kulit yang sehat sebaiknya kita mengurangi mengkomsumsi makanan tersebut kalau perlu menghindarinya dan lebih memperbanyak mengkomsusi buah-buahan atapun sayur-sayuran.

  • Jangan mudah stres.

Stres itu bisa menimbulkan masalah juga pada kulit loh, apa lagi stresnya disimpan sendiri. Kok bisa gitu? Nah, perlu kita ketahui bahwa ternyata ketika kita stres hormon  kortisol dalam diri kita meningkat  sehingga itu dapat memicu produksi minyak yang berlebihan pada kulit. Dengan begitu, ketika kita mengalami stres, maka terkadang banyak bertebaran jerawat di wajah atau pun bagian tubuh lainnya. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai mengolah stres.

  • Tidur yang cukup

Pada saat tubuh beristirahat yaitu dalam kondisi tidur, maka kulit akan lebih fokus melakukan proses regenerasi, memperbaiki sel-sel jaringan yang rusak pada kulit, selain itu aliran darah menjadi lebih lancar. Sehingga dengan tidur yang cukup kita akan mendapatkan kulit yang sehat,  glowing, bisa mengurangi keriput halus pada wajah, dan yang pastinya menjadi glazed skin, dong.

  • Memperbanyak Minum air putih.

Manfaat minum air putih sangat banyak dan salah satunya untuk menjaga kelembaban pada kulit, sehingga dengan banyak mengkomsumsi air putih kita akan terhindar dari penuan dini. Jadi mulai sekarang rajin-rajinlah mengkomsumsi air putih.

  • Menggunakan skin care yang benar

Banyak orang yang menginginkan kulit cantik, putih, bersih, dan glowing. Sehingga tak jarang banyak orang terutama kaum perempuan asal memilih skin care, asalkan cepat dan murah. Bahkan tak perduli lagi apakah skin care itu aman bagi kulit dan bisa membuat kulit sehat. Sehingga bukannya cantik, eh malah burik. Nah, sekarang ada nih produk skin care yang aman, tentunya sehat untuk kulit, dan yang pastinya kulit menjadi glazed. Mau dong kulit, putih, qlowing, glazed, plus sehat? Nah, beralih ke glazed skin B Erl aja dan rasakan manfaatnya.


Oke, sekian tips dari saya. Semoga bermanfaat...! 

Tetap cantik dan sehat dengan glazed skin B Erl.

Senin, 28 Maret 2022

Proses Menulis Hingga Memiliki Buku Karya Sendiri




Beberapa teman mengatakan kalau sebenarnya saya itu salah ambil jurusan waktu kuliah. Seharunya saya ambil jurusan sastra, bukan matematika. Kenapa? Ya, karena hobi saya menulis. 


Well, saya akan membagikan sedikit pengalaman saya tentang kepenulisan. Dalam kepenulisan sebenarnya saya masih amatir, tetapi saya bercita-cita menjadi seorang penulis hebat dan sukses. Aamiin..


Ya,  seperti yang saya tuliskan sebelumnya, kalau basic saya sebenarnya matematika, jadi kalau dalam kepenulisan saya masih pemula, tetapi alhamdulillah saya sudah menulis 6 buku solo. 4 buku kumpulan cerpen dan 2 buku novel. Kemudian 1 lagi buku kumpulan puisi yang saya tulis bersama teman-teman komunitas, dan ada beberapa antologi hasil lomba menulis. Sekarang saya sementara menggarap novel terbaru saya, alhamdulillah sudah ada dalam tahap proofreading dan editing.


Awal menulis, saya menulis non-fiksi berupa naskah pidato, ceramah, dan makalah ilmiah. Itu hanya untuk keperluan lomba. Dapat juara? Alhamdulillah pernah. 


Untuk menulis fiksi sebenarnya hanya iseng-iseng saja mengisi kebosanan hingga keisengan itu akhirnya menjadi sebuah hobi. Setiap ada ide pasti saya tulis, TIDAK PERDULI TULISAN ITU BAGUS ATAU JELEK, BENAR ATAU SALAH. Saya terus menuliskan setiap ada ide yang datang menghampiri, saya TULIS APA ADANYA. Toh yang baca saya sendiri. Ya, waktu itu saya belum percaya diri mempublikasikan tulisan-tulisan itu dan memang tujuannya hanya konsumsi pribadi saja. Tak pernah terpikirkan suatu hari menjadikannya sebuah buku.


Suatu hari saya melihat pengumuman lomba menulis cerpen di kampus yang diadakan oleh fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, saya pun mencoba ikut. Waktu itu teman saya sempat menertawakan karena tidak percaya kalau saya bisa menulis cerpen, tetapi saya tetap mengirimkan tulisan itu ke panitia lomba dan saya tidak menyangka kalau ternyata cerpen saya juara 2. Dari situ saya mulai percaya diri ternyata saya juga bisa menulis  dan alhamdulillah lagi cerpen saya bisa mengalahkan anak-anak sastra. Saya semakin semangat menulis.


Dan saya pun akhirnya memiliki mimpi suatu hari bisa menerbitkan karya saya sendiri.


Setelah diwisudah, saya pun akhirnya harus pulang kampung. Saya sempat merasa sedih bahkan sampai menangis. Saya pikir saya tidak akan bisa mewujudkan impian saya itu. Ya, secara pulang kampung di desa kecil nan terpencil plus tidak ada jaringan telepon, apa lagi internet. Bagaimana mungkin saya mewujudkannya? Sungguh itu mustahil. Ya, itu yang saya pikirkan waktu itu.


Ternyata ketika di kampung. Saya ditawari ikut lomba menulis makalah ilmiah mewakili kecamatan dan tanpa ragu saya menerima tawaran itu. Alhamdulillah dapat juara, meski hanya harapan 1.


Saya terus menulis, baik itu tulisan fiksi atau pun non-fiksi. Ya, saya tidak memilih-milih dalam menulis. Pokoknya tulis apa pun yang hinggap di kepala.


Lalu tulisan-tulisan berupa cerpen saya kumpul menjadi satu dan saya kirimkan ke penerbit. Tahun 2016 buku kumpulan cerpen saya yang pertama berjudul Menanti Senja di Pantai Losari akhirnya terbit. Ya meski pun ternyata masih banyak kesalahan-kesalahan penulisan di dalamnya karena memang saya hanya menulis secara otodidak. Kalau saya kembali membaca tulisan saya itu, jujur saya merasa malu sendiri. 


Di tahun yang sama saya mengenal penerbit MM yang sekarang  Mudilan Med, saya pun menerbitkan buku kumpulan cerpen kedua saya yang berjudul Cinta yang Terlupakan. Lalu kembali saya menerbitkan buku kumpulan cerpen saya yang berjudul Tentang Sebuah Tragedi di penerbit J-Maestro.


Tahun berikutnya, buku saya terbit lagi di Mudilan Med,  buku kumpulan cerpen Suatu Hari Bersama Yuan. 


Sembari menulis cerpen saya juga menggarap sebuah novel. Naskah novel yang pertama itu, saya coba mengirimkannya ke salah satu penerbit mayor dan ternyata tidak lolos seleksi alias ditolak. Hehehe...  Saya kembali merevisi naskah itu. Saya pun mulai ikut kelas-kelas menulis online baik yang free atau pun berbayar, selain itu memperbanyak membaca buku tentang kepenulisan dan juga novel, selain itu saya bergabung di grup-grup kepenulisan di fb atau pun grup WA. Hingga saya bersama seorang teman  mendirikan komunitas menulis di daerah kami dan dari komunitas itu saya beserta teman-teman menulis kumpulan puisi, lalu menerbitkannya di penerbit Mudilan Med. 


Ya, setiap tahun saya selalu berusaha minimal ada satu buku karya saya yang terbit. 


Terus berkarya tanpa henti, teruslah menulis untuk meninggalkan jejak di dunia ini dalam artian biarkan karya-karya itu membuktikan bahwa dirimu pernah ada di dunia ini.


Itulah perjalanan menulis saya. Ya, tidak ada yang instan di dunia ini, bahkan mie instan saja masih butuh proses agar bisa dikonsumsi. Hehhehe... Apatah lagi untuk sebuah kesuksesan. Benar apa betul?


Teruslah berproses hingga kau menggapai kesuksesan yang kau impikan. Jangan takut gagal karena kegagalan adalah salah satu proses untuk meraih kesuksesan.



 Semoga bermanfaat.


Terima kasih.


Tolitoli, 28 Maret 2022

Jumat, 04 Maret 2022

Jejak Sejarah di Kota Berru

Jejak Sejarah di Kota Berru

Oleh: Marhani Kani


Kembali rombongan kami bertandang ke kota Berru atau Barru, kampung halaman ibu saya. Malam sebelumnya juga kami ke Barru tepatnya di Palandro dan kali ini kami di Mattoanging.

Kali ini kami mengunjungi rumah keturunan raja Barru, rumah keluarga bapak bupati Tolitoli Amran H. Yahya. Kedatangan rombongan kami disambut hangat oleh tuan rumah.


Rumah panggung bergaya khas Bugis itu tampak indah, di anak tangganya dijejer beberapa pot tanaman hias yang beraneka ragam menambah keindahan rumah itu. Saat masuk di rumah, di dalam rupanya sudah tersedia hidangan makan malam dan beberapa bosara' yang berisi kue khas Bugis, ada burongko, kue sikaporo', saya tak tahu apa lagi.


Setelah bapak bupati duduk, tuan rumah kalau tidak salah namanya etta Pudding menunjukkan sesuatu kepada beliau. Sebuah kitab bersampul hijau, kalau saya tilik sampulnya itu dari kain, mungkin sampul aslinya sudah rusak.


 "Ini asli tulisan lontara." ujar sang tuan rumah memperlihatkan kitab itu.


Saya pun langsung antusias, terbesit rasa ingin memegang dan melihatnya. Namun saya segan dan malu tentunya. Seperti biasa jika menemukan hal baru jiwa kekepoan saya bergejolak. Saya harus melihat dan memegangnya langsung. Kalau tidak saya akan menyesal seumur hidup. Hehehhe hiperbola banget. Ya, kesempatan tak akan datang dua kali, bukan? Nah, saya tidak akan melewatkan kesempatan itu. 


Tak lama berselang kami dipersilahkan menikmati jamuan makan malam yang menggugah selera.


Usai makan, saya langsung mendekati sang tuan rumah dan meminta izin melihat kitab itu. Sungguh tak saya duga beliau dengan senang hati memperlihatkannya dan ibu dari tuan rumah yang usianya mungkin sepantaran indo mendekati saya.

"Tau baca?"

"Tidak. Saya pernah belajar huruf-huruf (alfabet) lontara, tapi belum begitu bisa membaca. Saya juga punya satu di rumah."

Ya, saya punya satu di rumah, tetapi itu kitab dari Soppeng punya ambo alias bapak saya. Ambo pernah mau memberikan ke orang, tetapi saya tidak mau memberikannya. Itu aset loh dan sangat berharga bagi saya, apa lagi itu bukan hanya sebuah kitab biasa, itu adalah tafsir Al-Quran tetapi dalam bahasa Bugis.

Karena saya belum bisa membacanya dan kalau pun saya bisa, tak akan cukup memahaminya dalam waktu sesingkat itu. Lagi jiwa kekepoan saya memaksa untuk bertanya.

"Ini isinya tentang apa?"

"Tentang keadilan, kejujuran, kebenaran."

"Oh, berarti mengenai hukum, ya Bu?"

"Iya. Di lemari itu ada beberapa barang peninggalan raja."

Mata saya langsung tertuju ke sebuah lemari. Benar saja di sana ada beberapa barang klasik, seperti gelas, piring, teko, dan masih banyak lagi.

" Boleh saya lihat dan ambil gambar?"

"Boleh."

Beliau mempersilahkan saya melihat isi lemari itu dan mengambil gambar. Pastinya saya sangat senang. 


Setelah saya kembali ke tempat duduk, beliau menunjukkan lagi sebuah benda di atas meja yang berada di depan pak bupati. Itu adalah sebuah piring Besar berwarna putih pudar, mungkin karena dimakan usia.

"Aga asenna ero?"

"Penne sima' berisi 12 nama malaikat."

"12 belas malaikat? Emang malaikat ada berapa? Emm setahuku kalau dalam Al-Quran malaikat cuman 10 deh." gumamku dalam hati. 

Sima' itu dalam bahasa Bugis adalah jimat dan memang piring itu adalah piring jimat kerajaan Bugis Barru. 

"Itu bagus kalau di simpan di HP. Bisa dijadikan jimat."

Wadduh, berhubung saya tidak percaya dengan jimat. Saya meng-oh saja. 

"Boleh ambil fotonya."

"Matuppi, engaka mopi etta." 

Saya tidak enak dong majulu'-julu' alias nyelonong ke depan bapak bupati, tidak sopan banget.

"Tidak apa. Nanti saya temani." 

Beliau langsung berdiri mengantar saya. Semua mata tertuju ke arah kami berdua termasuk ibu dan pak bupati, mungkin beliau berpikir, mau ngapain ini anak satu? Hahahah... Ah, biarlah mereka dengan pikiran masing-masing yang penting dapat ilmu dan bisa menghilangkan rasa penasaran saya.

"Magai?" tanya pak bupati.

"Melo mitai iye pennewe, mau liat ini piring."

Saya pun membidikkan kamera HP saya. Lalu kembali ke tempat duduk. Lagi saya masih menggali informasi mengenai kerajaan Bugis Barru.



"Piring itu usianya sudah berapa tahun?"

"Saya tidak tahu. Tapi sudah ada sejak zaman Belanda."

Seketika saya berdecak kagum.

"Di atas masih ada beberapa peninggalan kerajaan, cuman tidak terawat lagi dan sudah banyak yang pecah," imbuh salah seorang ibu yang juga dari keluarga itu.

"Wah, bagus dimusiumkan itu," ujar saya.

"Iya."

Sementara asik bercakap-cakap, handphone saya berdering. Itu telepon dari kak Saleh, kakak saya. Ternyata sudah mau berangkat lebih dulu, alias memisahkan diri dari rombongan.

Saya pun pamit kepada tuan rumah, ibu dan pak bupati beserta rombongan sembari mengucapkan terima kasih.


Sungguh saya sangat senang dan bersyukur bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga di kampung halaman ibu saya.


Barru, 5 Maret 2020.

Senin, 14 Februari 2022

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku




Resume ke-13

"Jika kamu tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan sederhana, kamu tidak cukup memahaminya*"- Albert Einstein.

Pertemuan demi pertemuan telah terlewati dan tidak terasa ternyata kita sudah berada pada pertemuan yang ke-13 saja. 

Materi pada pertemuan kali ini adalah tentang Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku.

Sebelum masuk materi inti, terlebih dahulu kita mengenal narasumber dan moderator kita pada pertemuan kali ini yaitu bapak Susanto, S.Pd.  dan Pak Muliadi, S.Pd, M.Pd.

Pak Susanto, S.Pd yang lebih akrab dipanggil pak D ini adalah peserta kelas Omjay Gelombang 15. Menulis blog pada tahun 2009, namun benar-benar 'ngeblog' sejak pandemi Covid-19. 

Pendidikan beliau adalah S1 PGSD BI(2017) di Universitas Terbuka UPBJJ Palembang  dan S1 PBSI (2016) di STKIP PGRI Lubuklinggau. Ada pun keahlian pak D yaitu Penulis, kurator konten, dan editor.

Sedangkan pak moderator kita yaitu pak Muliadi, S.Pd, M.Pd. Kalau beliau sendiri adalah senior saya di SMK Negeri 1 Tolitoli, kami sama-sama guru matematika. Beliau juga adalah seorang penulis.

Well, kita langsung ke materi yaitu tentang Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku.


Apa itu Proofreading?


Proofreading disebut uji-baca, yaitu membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut. Jadi, dengan melakukan proofreading, kesalahan dapat diminimalkan. Ada pun kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata.


Lalu, apa perbedaan antara Proofreading dan editing?


Meski keduanya sama-sama memeriksa, mengoreksi, dan membenarkan suatu tulisan, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar. Editing itu sendiri lebih fokus pada aspek kebahasaan, sedangkan proofreading selain aspek kebahasaan, juga harus memperhatikan isi atau substansi dari sebuah tulisan. Jadi, proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.


Apa Tugas Seorang Proofreader?


Nah, Tugas seorang proofreader di sini bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca. Seorang proofreader juga harus bisa memastikan bahwa tulisan itu bisa diterima logika dan dapat dipahami pembaca nantinya.

 

Maka seorang proofreader harus bisa genali hal-hal berikut ini:


1. Apakah sebuah kalimat efektif atau tidak

2. Susunannya sudah tepat atau belum

3. Substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak


Jadi tugas seorang proofreader adalah untuk membuat teks mudah dipahami pembaca dan tidak kehilangan substansi awalnya.


Mengapa harus melakukan proofreading?


Proofreading adalah tahapan yang penting, apa lagi jika berniat menertibkan karya tulis itu kepada public dan tentu saja termasuk dalam tulisan di blog.


Salah satu caranya mintalah seseorang untuk membaca karya tulis kita, lalu mengoreksinya, dan pastikan si proofreader adalah orang-orang yang memang sudah tahu atau ahli dalam hal ini. Lalu, bagaimana jika si penulis sendiri yang melakukannya? Tentu saja bisa, akan tetapi pastikan tulisan itu telah selesai. Karena terkadang saat kita sedang menulis muncul keinginan untuk memperbaiki tulisan kita, takut tulisan itu jelek, tidak enak dibaca, banyak kesalahan, dan sebagainya. Sehingga sebelum tulisan itu belum jadi kita sudah melakukan proofreading dan terjebak untuk segera memperbaiki, lalu pada akhirnya tulisan itu tidak selesai-selesai.


Meskipun proofreading itu dilakukan oleh penulisnya sendiri, namun si penulis harus bersifat netral. Seorang proofreader akan menilai karya penulis secara objektif. Oleh karenanya, proofreader bertindaklah sebagai seorang “pembaca”. Apakah karya tulis kita sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit?


Bagaimana agar bisa objektif?


Agar lebih objektif dalam menilai tulisan sendiri, maka yang harus dilakukan yaitu  terlebih dahulu endapkan beberapa jam atau beberapa hari.  Hal ini dilakukan agar membebaskan pikiran dari ide yang baru saja dituliskan . Selanjutkan memposisikan diri kita sebagai calon pembaca.


Ada pun langkah-langkah Proofreading: 


1. Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.


2. Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.


3. Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat-kalimat yang ambigu.


4.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit, pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI, konsistensi nama dan ketentuannya, serta perhatikan judul bab dan penomorannya.


Selain itu, hindari kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya _typo_ atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata. Kemudian hindari memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya.


Demikian resume dari pemaparan materi yang luar biasa oleh Pak D. 


Segala sesuatu butuh proses, tak ada yang instan di dunia ini bahkan mie instan pun masih butuh proses hingga bisa dimakan. Maka teruslah berproses. Teruslah menulis, biarkan tulisanmu berproses hingga nanti menjadi tulisan yang enak dan layak untuk dibaca.__Marhani Kani


Salam literasi

Salam sukses


Tolitoli, 14 Februari 2022

Selasa, 08 Februari 2022

Yuk Belajar Mengaji!

 Yuk belajar membaca Al-Qur'an!



Tak terasa sebentar lagi tamu agung kita akan bertandang, semoga kita masih diberikan kesempatan untuk menyambutnya dan menjamunya. Siapakah tamu spesial itu? Tentu saja bulan Ramadhan. Nah, sebelum sang tamu agung tiba, yuk kita persiapkan diri kita. Salah satunya perbaiki bacaan Al-Qur'an  agar nanti kita bisa lancar membacanya. Karena satu huruf saja kita baca insyaAllah akan mendapatkan ganjaran pahala sepuluh kali lipat. MasyaAllah, kan?


Bagi yang sudah bisa membaca jangan berhenti untuk belajar, terus belajar. Bagi yang belum lancar atau belum bisa, jangan malu untuk belajar meski pun usia tak mudah lagi. Tak ada kata terlambat untuk belajar, bukan? Apa lagi masih muda. 


Saya ingat pengalaman saya dua tahun lalu, waktu itu saya baru hijrah ke Tolitoli, memang salah satu niat saya hijrah ke Tolitoli mau belajar lagi. Akhirnya saya mendaftar di salah satu rumah tahsin yang mengajarkan tahsin dan tajwid. Sebelum masuk program, bacaan saya diuji dan di luar dugaan ternyata bacaan saya sangat hancur.  Saya merasa malu pada diri sendiri. Sungguh saya pikir bacaan saya selama ini sudah benar, makharijul hurufnya sudah benar, tajwid sudah benar, astagfirullah PD banget diriku. Ya, soalnya sudah berguru ke sana kemari, guru-guru saya pun bukan orang sembarangan, saya bener-bener berguru pada ahlinya. Untuk semua itu saya bersyukur memiliki indo  (panggilan ibu dalam bahasa Bugis) yang sangat mendukung saya belajar, sampai-sampai memaksa saya belajar, bahkan saya dipaksa masuk ke ponpes demi belajar ngaji. Saya sempat nangis dan mengurung diri di kamar karena tidak mau masuk pesantren. Tapi indo tetap kekeh memaksa saya karena waktu itu indo maunya saya jadi seorang qari'ah, tapi akhirnya gagal karena tidak ada modal suara. Heheh... Alhamdulillah meski pun sekarang saya tidak bisa menjadi qariah indo tak masalah yang penting saya sudah bisa ngaji. Itu sudah lebih dari cukup.


"Ah, maafkan anakmu ini Bunda yang tak bisa mewujudkan mimpimu dan terima kasih telah memaksaku untuk terus belajar. Hingga rasa keterpakasaan itu menjadi rasa cinta."


Tolitoli, 08 Februari 2022

Rabu, 02 Februari 2022

Apa itu Writer's Block?

Writer's Block


Resume ke-8

Pertemuan kali ini saya sedikit kurang semangat. Padahal perjalanannya masih panjang masih tersisa lebih kurang 22 pertemuan. Ini dikarenakan rancangan tulisan yang saya buat berantakan dan bingung mau menulis apa untuk melanjutakan tulisan. Leptop menyala, kertas, dan buku-buku pun berserakan. Beberapa kalimat yang saya tulis di kertas sepertinya tidak ada yang pas. Ingin berselancar di dunia maya mencari referensi, tapi jaringan tidak bersahabat. Jadilah kepala saya terasa mau pecah dan perut ini pun langsung terasa lapar, ingin makan yang manis-manis, tapi tak ada kecuali gula pasir. Hehehe

Saya tidak menyerah begitu saja dengan keadaan. Saya terus menggoreskan tinta pena saya meski arah tulisan itu tak jelas. Namun, semakin dipaksakan otok ini untuk berpikir bahkan semakin tidak bisa menulis apa pun. Pada akhirnya saya berhenti sejenak sambil merebahkan tubuh ini, mencari posisi yang nyaman.

Sepertinya saya terserang Writer's Block. 


Apa itu writer's block?

Materi pada pertemuan yang ketujuh ini tentang Writer's Block yang akan dipaparkan oleh ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr dan ditemani oleh ibu Widya Setianingsih sebagai moderator.

Selanjutnya, ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr memaparkan bahwa writer's block adalah istilah yang dipopulerkan pertama kali oleh psikoanalisis Edmund Bergler.

Writer's block adalah keadaan dimana kita merasa blank atau stuck saat sedang menulis. Writer's Block bisa menyerang siapa saja Baik itu penulis pemula maupun profesional. Penulis cerpen maupun puisi. Penulis artikel maupun jurnal ilmiah. Muda maupun yang tak lagi muda. Intinya jika dia seorang penulis pastilah pernah atau akan mengalami hal ini. Kenapa demikian?  Karena writer's block umumnya tidak disebabkan oleh masalah komitmen/kompetensi menulis.

Sebenarnya writer's block dapat diidentifikasi dengan melihat tanda-tandanya. Jika kita merasa sulit fokus, tidak ada inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan frustasi untuk menulis, itu merupakan tanda-tanda kita terserang WB. Jika ada tanda-tanda itu muncul sebaiknya tidak membiarkannya sampai berlarut-larut karena itu akan membuat tulisan kita tidak akan selesai.

Berapa lama writer's block  bisa terjadi?

Tergantung, artinya setiap orang akan berbeda. Tergantung seberapa cepat seorang penulis mampu mengatasi kondisi writer's block  tersebut.

Nah, bagaimana mengatasi writer's block?

Untuk mengatasi writer's block langkah awal yaitu mengetahui penyebab terjadinya writer's block. Ada beberapa hal yang menyebabkan writer's block bisa terjadi di antaranya :

1. Mencoba metode/topik baru dalam menulis

2. Stress

3. Lelah fisik/mental

4. Terlaku perfeksionis


Setelah mengetahui penyebabnya barulah kita bisa mencari solusinya.

1. Jika writer's block terjadi karena kita sedang mencoba metode/topik baru dalam menulis, maka teruslah berlatih dan belajar. 

2. Jika Stress, maka istirahatlah sejenak. Kalau saya biasanya refreshing, pergi ke pantai, membaca, nonton, atau makan yang manis-manis seperti coklat. Pokoknya melakukan hal-hal yang menghilangkan stress.

3. Jika itu karena lelah fisik/mental, maka tak ada jalan lain selain istirahat karena tubuh kita bukan robot.

4. Terlaku perfeksionis, menjadi perfeksionis itu boleh, namun terlalu perfeksionis itu bahaya. Maka biarkan tulisan itu mengalir apa adanya. Nanti setelah tulisan itu selesai, barulah diperbaiki. 

Setelah pemaparan materi, ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr menutup dengan pesan yang luar biasa.

"Kita harus banyak bersyukur ditakdirkan masuk menjadi anggota kelas menulis ini. 

Semuanya bukanlah kebetulan semata. 

Tapi ada visi dari Allah yang di amanahkan pada kita. 

So, jangan jadikan halangan sebagai sebab putusnya visi kita. 

Kata-kata penyemangat yg saya dapat dari bedah buku kemarin malam. 

Niatkan kuat-kuat dalam hati. 

Aku ingin menulis 1000 buku, dalam waktu 1000 tahun, meskipun 1000 rintangan silih ganti menghadang"


Teruslah mengepakkan sayap-sayap indahmu membumbung tinggi ke angkasa untuk meraih bintang impianmu dan jangan biarkan apa pun menghalangi jalanmu__Marhani Kani



Tolitoli, 2 Januari 2022

Salam leterasi.

Senin, 31 Januari 2022

Masalah Sampah Masalah Kita Bersama

 Masalah Sampah Masalah Kita Bersama



Dari dulu sampah merupakan masalah yang sangat serius di Indonesia terutama masalah sampah plastik.  Bahkan tak jarang kita temui sampah-sampah plastik ini berserakan di jalan-jalan atau pun ditumpuk di beberapa titik. Ini terjadi karena kurangnya kesadaran kita dalam menjaga kebersihan dan menganggap hal ini adalah hal biasa saja. Sehingga dengan entengnya membuang sampah sembarang dan bermasa bodoh dengan sampah-sampah itu.



Selain sampah-sampah plastik itu, sampah dari limbah rumah tangga pun turut menyertainya, dan tentu saja itu menimbulkan bau menyengat yang menganggu penciuman, selain itu juga tentunya sangat merusak pemandangan. Bahkan yang lebih parahnya sampah-sampah ini bisa mendatangkan penyakit . 



Tak dipungkiri bahwa masalah sampah tak akan pernah berujung selama ada kehidupan di muka Bumi ini. Meski demikian, masalah ini bisa diminimalisir. Contohnya saja di negara-negara maju seperti di Jepang. Jika kita berkunjung ke sana, maka kita tak akan menemukan masalah sampah seperti yang ada di negara kita, bahkan bisa dikata tak akan ada sampah yang kita temui berserakan di jalan-jalan atau pun di tempat-tempat umum. Ini dikarena tingginya kesadaran dan kepedulian masyarakatnya akan kebersihan. Seharusnya kita mencontoh hal itu.


Oleh karena itu diperlukan kesadaran kita untuk tetap menjaga kebersihan, tidak membuang sampah dimana-mana, dan sebisa mungkin mengurangi penggunaan sampah plastik, dan sebaiknya melakukan daur ulang, baik itu sampah yang berupa limbah rumah tangga dan terlebih lagi sampah plastik.

Masalah sampah adalah masalah kita bersama, sebaiknya kita menyelesaikannya bersama-sama. Jika pun kita tidak bisa menggerakkan orang lain untuk menyimpan sampah pada tempatnya, setidaknya kitalah yang melakukannya. Mulailah dari hal terkecil yaitu memulai dari diri sendiri.


Simpanlah sampah di tempatnya. Jika tidak bisa membersihkan, setidaknya jangan mengotori.


Marisa, 1Februari 2022

Salam literasi

Salam bersih berjamaah

Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu

 Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu


Resume ke-7

Senang sekali masih diberikan kesempatan dan semangat untuk mengikuti pertemuan yang ketujuh ini. Semoga ridho dan rahmat-Nya senantiasa menyertai kita dalam menuntut ilmu.

Materi kali ini yaitu tentang Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu yang dipaparkan oleh guru kita yaitu Prof. Richardus Eko Indrajit dan moderator ibu Aam Nurhasanah.

Setiap penulis pastilah bermimpi tulisannya diterbitkan di penerbit mayor dan pastinya berharap akan best seller. Namun, untuk menembus penerbit mayor bukanlah perkara mudah. Banyak yang harus dipenuhi terutama masalah kelayakan karya kita untuk diterbitkan. 

Semoga setelah menyimak materi kali ini, tulisan kita berjodoh di penerbit mayor.  Aamiin.

Bagaimana sih agar tulisan bisa menembus penerbit mayor?

* Kriteria Tulisan yang Diterbitkan Penerbit Mayor.

Prof. Richardus Eko Indrajit memaparkan bagaimana kriteria tulisan yang akan diterbitkan penerbit mayor, menurut beliau biasanya yang dilihat oleh penerbit mayor ada dua hal utama, yaitu KONTEN ATAU JUDUL YANG MENARIK (yang sedang menjadi tren pembicaraan) dan PENULIS YANG DIKENAL (karena memiliki track record bukunya laku di pasaran). Salah satu dari dua itu dapat menjadi pertimbangan, tetapi kalau ada dua-duanya akan menarik bagi penerbit mayor untuk mempublikasikannya dalam bentuk buku fisik maupun e-book.


*Langkah-langkahnya Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu bersama Prof. Richardus Eko Indrajit : 

1. Kunjungilah EKOJI CHANNEL, dan carilah sebuah konten/tema yang menarik.

2. Tulislah apa pun yang dikatakan Prof. Richardus Eko Indrajit dalam channel youtube tersebut ke dalam bentuk tulisan.

3. Strukturkan pembahasan tersebut dalam bentuk 5W1H - apakah judulnya (WHAT), mengapa judul tersebut penting (WHY), siapa yang membutuhkannya (WHO), dimana judul tersebut dapat diimplementasikan (WHERE), kapan menerapkannya (WHEN), dan bagaimana mengimplementasikannya (HOW).

4. Memperlihatkan draftnya  kepada Prof. Richardus Eko Indrajit agar dapat diteliti dan dikomentari.

5. Stelah itu, Prof. Richardus Eko Indrajit meminta guru terkait MEMPERKAYA pembahasan dengan menambahkan kontennya dari sumber-sumber referensi lain. Mengenai hal ini, beliau akan  menjabarkan caranya mencari dan mendapatkan referensi tersebut.


Prof. Richardus Eko Indrajit melanjutkan pembahasannya, setelah jadi bukunya (biasanya Prof. Richardus Eko Indrajit meminta minimal 100 halaman), lalu draft itu diserahkan ke Penerbit ANDI Yogyakarta sebagai mitra PGRI dan EKOJI CHANNEL ACADEMY.

Nah, Dari situ penerbit mayor akan membacanya dan menelaahnya. Biasanya 1-2 bulan kemudian, rombongan guru-guru yang menulis tersebut akan mendapatkan pengumuman terkait dengan SIAPA SAJA YANG BUKUNYA DIPUTUSKAN UNTUK DITERBITKAN dengan revisi minor, atau dengan revisi mayor. Juga keputusan terkait dengan apakah akan diterbitkan dalam bentuk publikasi fisik atau elektronik (keduanya sama-sama prestis).

Selanjutnya Prof. Richardus Eko Indrajit menambahkan bahwa hingga hari ini telah berhasil diterbitkan 39 buku di seluruh wilayah Indonesia, dan sejumlah draft sedang ditelaah oleh penerbit. 

Sungguh luar biasa, bukan?

Saya merasa tertantang untuk bisa menulis buku dalam waktu dua minggu.


Jangan pernah katakan tidak bisa jika kau belum mencoba. Cobalah dan buktikan sendiri bahwa kau bisa melakukannya. 


Tunggu apa lagi? 


Tak akan ada sebuah tulisan jika kau tidak menulisnya, maka tulislah.__Marhani Kani



Tolitoli, 31Januari 2022

Salam literasi


Jumat, 28 Januari 2022

Menulis Buku dari Karya Ilmiah

 Menulis Buku dari Karya Ilmiah


Resume ke-6


Pertemuan demi pertemuan telah terlewati, kini sudah berada di pertemuan yang ke-enam. Sungguh luar biasa materi-materi setiap pertemuannya yang membuat saya terus bersemangat untuk mengikuti pertemuan demi pertemuan. Di pertemuan kali ini yaitu tentang Menulis Buku dari Karya Ilmiah yang dipaparkan oleh ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd dan moderator yaitu ibu Raliyanti.

Berbicara mengenai karya ilmiah, sejak dulu saya sangat ingin menulis sebuah buku nonfiksi seperti karya ilmiah, akan tetapi saya bingung bagaimana memulainya, bagaimana menuliskannya, bagaimana menulis karya ilmiah yang baik, dan apa saja yang perlu diperhatikan untuk membuat sebuah karya ilmiah yang baik apa lagi dijadikan sebuah buku yang mana bisa menarik pembaca untuk membacanya. Tentu saja sebenarnya saya sudah pernah melaluinya saat membuat skripsi, tetapi pastilah berbeda jika itu menulis karya ilmiah berupa buku. Tentunya harus menarik untuk dibaca dan tidak seperti skripsi yang menurut saya hanya sebagai syarat kelulusan dengan kata lain tidak menarik dan sedikit membosankan. Ada pun mungkin yang ingin membaca pastilah hanya segelintir orang saja yang mungkin ingin mencontoh pembuatan skripsi kita. 

Nah, pada materi kali ini ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd memaparkan bagaimana agar karya Ilmiah yang telah kita tulis dengan susah payah bisa dibaca oleh banyak orang dan tidak hanya menjadi bahan bacaan kita sendiri atau hanya pihak tertentu saja yang mengetahuinya. 

Selanjutnya, ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd mengatakan bahwa akan sangat disayangkan apabila informasi dan data penting yang tertulis dalam KTI dari hasil riset yang telah kita lakukan tersebut hanya tergeletak begitu saja di perpustakaan dan tidak dapat tersampaikan kepada masyarakat luas atau tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas sebagai rujukan yang dapat memberikan solusi nyata.


Agar memberikan banyak manfaat dan bisa dibaca banyak orang yaitu menjadikan karya ilmiah itu menjadi sebuah buku.


Manfaat mengkonversi karya ilmiah menjadi buku :

A. Dapat dibaca oleh masyarakat awam

B. Buku dapat diperjualbelikan, jadi ada keuntungan material yang dapat kita peroleh

C. Bagi para ASN, buku dapat dijadikan publikasi ilmiah yang dapat menambah poin angka kredit. Jadi selain mendapatkan poin AK dari laporan PTK, juga akan mendapatkan poin dari publikasi ilmiah berupa buku tadi. Sekali dayung 2 pulau terlampaui.

D. Jika buku hasil konversi karya ilmiah milik kita banyak yang baca, banyak yang beli, ada kemungkinan nama kita sebagai penulis akan dikenal oleh banyak orang, ini juga merupakan keuntungan tersendiri

E. Ilmu yang ada, dapat tersebar bebas tanpa sekat jika sudah diubah menjadi buku


Sebelum kita mengubah karya ilmiah kita harus mengetahui perbedaan format buku dan format karya tulis ilmiah.


Perbedaan Format Buku dan Format Karya Tulis Ilmiah :

* Format buku :

- judul

- kata pengantar

- prakata

- daftar isi

- isi buku

- daftar Pustaka

- sinopsis

- profil penulis

Boleh ditambah daftar gambar, indeks,


* Format KTI pada umumnya :

- judul

- lembar pengesahan

- kata pengantar

- halaman persembahan

- daftar isi

- pendahuluan

- tinjauan Pustaka

- metode penelitian

- pembahasan

- kesimpulan

- daftar Pustaka

- lampiran


Selanjutnya, ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd memaparkan bagaimana cara mengkonversi karya tulis ilmiah itu menjadi buku agar lebih menarik untuk dibaca.


Cara Mengkorversi Karya Tulis Ilmiah Menjadi Buku:

1. Mengubah judul

Biasanya, judul KTI menggunakan bahasa ilmiah,  kaki, dan panjang. Judul buku lebih cenderung menggunakan bahasa populer, santai dan singkat. Paling tidak maksimal 5-6 kata. Sehingga lebih singkat, padat, namun tidak mengubah arti dari judul karya ilmiah yang telah dibuat


2. Mengubah daftar isi

Biasanya untuk beberapa karya ilmiah, daftar isi berupa 

BAB 1 Pendahuluan berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat, batasan masalah

BAB 2 landasan teori

Bab 3 metode penelitian yang berisi rumus2 statistika

Bab 4 hasil dan pembahasan

Bab 5 penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Selanjutnya beliau menambahkan bahwa yang perlu diperhatikan ketika mengubah karya ilmiah itu menjadi BUKU yaitu daftar isi yaitu ikuti pedoman 2W+1H.

Bab 1 *(why)* menjelaskan pentingnya, alasan penggunaan metode itu untuk pembelajaran. Masalah pembelajaran Sains selama ini, dll

Bab 2 *(APA)* enjelaskan apa itu, karakteristik, ciri khas, dari metode/media/model yang menjadi fokus dari tulisan

Bab 3,4,5, dan seterusnya ( *How* ) menjelaskan bagaimana tahap pembuatan, bagaimana hasil pembuatan, bagaimana penerapannya.

Hal-hal Lain yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat buku dari Karya Tulis Ilmiah : 

Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd  melanjutkan pembahasannya, bahwa jika ingin menampilkan hasil penelitian, sebaik tidak terlalu banyak. Hasil yang ditulis hanyalah data penelitian yang penting saja.

Ada pun secara kebahasaan dan penyajian, karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. Setiap penulis pastinya memiliki gaya bahasa masing-masing, jadi penulis bebas menulis sehingga tulisan itu menarik untuk dibaca. Selain itu, dalam mengubah karya ilmiah kita menjadi buku, buatlah bahasa yang sederhana dan jelas agar pembaca mudah memahami isi buku kita secara lengakap. 

Kemudian untuk daftar pustaka jika ingin menggunakan blog, gunakan situs blog yang resmi seperti Kemendikbud.go.id, Jurnal ilmiah, e book,,atau karya ilmiah lainnya. 

Sebagai catatan dari narasumber hendaknya kita menghindari menggunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dan lain sebagainya. Kemudian, agar lebih meyakinkan pembaca bahwa kita benar-benar telah melakukan itu, maka berikan ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan penelitian yang kita lakukan.

Selain itu, syarat lain dalam untuk menjadikan karya ilmiah itu dalam versi buku minimal 70 halaman format A5 dengan ukuran huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan Dengan aturan Penerbit.

Hindari plagiat meski pun itu karya kita sendiri. Nah, agar tidak dikatakan self plagiarisme sebaiknya kita tidak hanya sekadar meng-copy paste saja karya tulis ilmiah kita untuk dijadikan buku dengan kata lain kita harus menulis kembali karya itu dengan bahasa kita sendiri, tetapi tentu saja tidak merubah arti dari kalimat yang ada di karya tulis ilmiah kita sebelumnya.

Jadi, kesimpulan dari materi ini bahwa dalam membuat  buku dari karya ilmiah bukan berarti hanya cover dan judul saja yang berubah sedangkan  isi sama  dengan karya tulis yang telah kita buat sebelumnya.


Menulislah untuk membuktikan bahwa engkau pernah ada di dunia ini__ Marhani Kani

Tolitoli, 28 Januari 2022
Salam literasi.

  
 

Rabu, 26 Januari 2022

Menulis Menjadikanku Naik Kelas dan Berprestasi

Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi



Resume ke-5

Tidak terasa lima pertemuan telah terlewati dan empat resume telah ditulis. Bersyukur karena masih diberikan semangat untuk terus menulis sampai resume yang kelima ini. Semoga semangat terus berkobar di hati kita untuk terus menimbah ilmu dan berbagi tulisan yang bermanfaat.

Pertemuan yang kelima ini dipandu oleh bapak Dail Ma’ruf dan Aam Nurhasanah, S.Pd. Sebelum memasuki materi, sejenak kita luangkan waktu untuk mengenal sang guru kita pada pertemuan ini.

Siapakah itu  ibu Aam Nurhasanah, S.Pd?

Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd lahir di Cipanas, 12 Agustus 1988. Menempuh masa pendidikan mulai dari SD Negeri Bintangresmi 02, SMP Negeri 1 Cipanas, SMA Negeri 1 Cipanas, kuliah S1 di STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung, Prodi DIKSASTRASIADA, dan lulus  tahun 2012.  Saat ini menduduki jabatan sebagai kepala sekolah di SMPS MATHLA UL HIDAYAH CIPANAS, di Cipanas Lebak.

Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd memulai karir sebagai blogger penulis pemula, kemudian narasumber, curator, dan sekarang menjadi editor. Belaiu telah melahirkan 40 buku dan menorehkan beberapa prestasi yang menakjubkan. Semua pencapaian itu tentunya tidaklah dicapai dengan mudah dan langsung sim sala bim, akan tetapi melalui proses yang panjang.

Selanjutnya ibu Aam menceritakan bagaimana perjalanannya hingga sampai ke titik itu, titik di mana beliau berada di puncak. 

“Saya sebelumnya bukan siapa-siapa, bukan orang besar, dan bukan orang yang memiliki segudang prestasi. Saya sama dengan bapak ibu, memualai di kelas ini dengan status peserta,” ungkap ibu Aam.

Lalu, bagaimana bisa ibu Aam menaiki tangga hingga mencapai puncak?

Semua hal tentunya harus diawali dari nol, bahkan penciptaan Bumi dan kita sebagai seorang manusia pun dimulai dari nol, begitu juga dengan karir ibu Aam. Beliau memulainya dari titik bawah yaitu titik nol.

Awalanya ibu Aam bergabung sebagai peserta di Belajar Menulis di gelombang 8 PGRI ini, tepatnya pada bulan April 2020. Namun, sayangnya beliau tidak fokus mengikuti kelas ini dan  tertinggal dalam membuat resume sehingga membuatnya tidak lulus. Ibu Aam sempat merasa patah semangat dan hampir menyerah. Kelas Belajar Menulis PGRI terus berlanjut hingga di gelombang ke-12 beliau kembali ikut bergabung. Di sinilah ibu Aam kembali menemukan kekuatan dan semangat baru untuk terus bangkit, beliau pun akhirnya bisa menulis resume hingga akhir. 

Setelah berhasil lulus di gelombang 12 beliau akhirnya melahirkan buku antologi Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng dan setelah itu lahirlah buku solo perdananya. Selain itu, ibu Aam menjadi moderator di kelas Omjay dan dijadikannya buku solo kedua. Tak sampai di situ saja, ibu Aam terus menaiki tangga demi tangga. Setelah mengasah diri menjadi moderator, beliau pun mengikuti lomba blog dan yang menakjubkan beliau meraih juara 1. Kembali, karya-karya itu diabadikannya menjadi sebuah buku.

Wah, ternyata ibu Aam terus melaju ke tangga berikutnya yaitu menjadi editor dan bekerja bersama bu Kanjeng di Oase Pustaka. Setelah itu beliau mengikuti tantangan menulis dari satu minggu dengan penerbit mayor dan beliau berhasil menerbitkan buku dari tantangan itu. 

Ibu Aam mengakatan sekarang sudah tengah berada di puncak. Sungguh menakjubkan perjalanan karir beliau ini, bukan? Semoga nanti saya dan pembaca yang budiman bisa mengikuti jejak beliau.

Nah, Apa yang dimaksud dengan naik kelas dengan menulis?

Ibu Aam Nurhasana memaparkan bahwa yang dimaksud dengan naik kelas di sini adalah bagaimana kita berproses dari bawah yaitu dari nol hingga bisa sampai ke tingkat lebih tinggi.

Nah, terus menulis biarkan tulisan itu berproses. Namun, tak jarang dalam proses untuk naik kelas dalam artian mencapai puncak kesuksesan dalam munulis terkadang kita merasa bosan. Jangan biarkan hal itu terjadi. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Bagaimana agar tidak merasa bosan dalam menulis?

Ibu Aam memaparkan bahwa menulis jangan dijadikan sebagai beban, tetapi jadikanlah sebagai sebuah kebutuhan. Sehari saja tidak menulis, maka hidup terasa kurang bagaikan sayur kurang garam. Jadikan menulis sebagai passion atau gairah yang terus memompa untuk berkarya mengukir keabadian. beliau menambahkan, Jika dalam menulis kita merasa bosan berhenti sejenak dan hiburan dengan hobi lain. Itu bisa dilakukan dengan jalan-jalan ke pantai, menyanyi, atau merajut. Sehingga setelah hiburan mood menulis kita kembali segar.

Pesan ibu Aam agar bisa naik kelas dengan menulis, “Jangan takut untuk menulis, jangan takut untuk berproses, dan jangan takut untuk naik kelas. Menulis di setiap kesempatan, ikut lomba blog, jangan pikir menang, tetapi uji keberanian. Jadikan writing is my passion. Jangan menunggu waktu baru menulis, tapi luangkan waktu untuk menulis. Rajinlah menulis hingga karyamu berbuah manis.”

Teruslah berproses untuk menaiki tangga demi tangga kesuksesanmu. Jika mengalami kegagalan, maka coba lagi, lagi, dan lagi sampai kau berhasil. Namun, jangan cepat berpuas diri, tetap rendah hati dengan pencapaianmu, dan yang terpenting jangan lupa berbagi. _Marhani Kani

Tolitoli, 26 Januari 2022

Salam cinta dariku

Salam literasi

Senin, 24 Januari 2022

How To be The First One in Writing Blog

 How To be The F1



Resume ke-4

Pertemuan yang keempat ini dipandu oleh moderator ibu Widya Setianingsih dan narasumber kali ini adalah ibu Maesaroh, M.Pd dengan materinya How To be The F1. 

Nah, bagaimana caranya?

Untuk menjadi F1 itu luar biasa. Sungguh sangat luar biasa kerena bisa menyelesaikan tulisan atau resume dalam waktu singkat, cepat, namun bernas tentunya. Kalau istilah saya kerennn.  

Sejujurnya keinginan berada di posisi pertama tentu saja sangat ingin, hanya saja memang belum bisa mengalahkan teman-teman yang super cepat dan pada akhirnya saya selalu berada di urutan paling bawah. Namun, bagi saya sudah bisa menulis dan mengumpulkan resume sudah Alhamdulillah. Itu artinya saya sudah ada kemajuan dan yang terpenting bagi saya yaitu sudah bisa menang melawan diri sendiri dari rasa malas. 

Baik, langsung saja ke materi. Ah, tidak sabaran.

Pada pertemuan kali ini ibu Maesaroh M.Pd memaparkan bagaimana trik agar bisa berada di posisi pertama.

Trik Cepat menulis resume

Agar bisa menulis dengan cepat ternyata tidak cukup meggunakan satu alat gawai saja, gunakanlah 2 alat gawai.

1. Telepon : 

     Telepon digunakan untuk menyimak materi.

2. Laptop :

     Gunakan laptop yang terhubung WAB untuk mengetik. Untuk apa? Tujuannya agar setelah tulisan selesai diketik, bisa langsung dikirim.

Selain bisa menulis dengan cepat, tentu saja tulisan kita harus bagus, benar, bernas, dan kalau bisa dibuat semenarik mungkin. Dalam hal ini ibu Maesaroh memaparkan bagaimana cara menulis resume dengan benar.

Cara Menulis Resume dengan Benar 

1. Amati materi dari Narasumber dengan baik.

2. Modifikasi materi yang diberikan Narasumber. menjadi bahasa sendiri dengan kaidah penulisan yang baku.

3. Hindari copy paste seluruh materi Narasumber.

4. Kembangkan materi yang disampaikan Narasumber dengan relevansi materi dari luar yang related. 

5. Berikan kesimpulan di akhir penjabaran resume atau tepatnya sebelum kalimat penutup.

6. Yang terpenting dalam meresume adalah membuatnya dengan gaya bahasa sendiri, agar tulisan kita memiliki seni yang khas. 


Set Our Mind

Selanjutnya Set Our Mind. Ya, karena kekuatan pikiran itu memang sangatlah berpengaruh. Mungkin inilah sebabnya resume saya selalu berada di urutan paling bawah karena saya menset pikiran saya tidak mesti merada di urutan pertama, ya bagi saya yang penting bisa menulis, ya sudah okay. Well, setelah materi ini semoga bisa meroket ke F1. Okay, lest reset our mind! Yes, you can do it.


* Posisikan Resume Anda di urutan pertama 

Dengan memposisikan resume kita di urutan yang pertama, itu bisa lebih banyak menarik minat pengunjung.

* Berikan Karakter Pada Resume Anda

Karakter itu penting, agar tulisan lebih menanrik, tulislah dengan menggunakan bahasa sendiri, apa adanya. Kalau kata saya tulislah dengan jujur apa adanya kamu. hehehe…

* Tambahkan Referensi lain yang berkaitan dengan materi 

Menambahkan referensi dari sumber lain itu bisa menambah poin dari tulisan kita sehingga menjadi semakin menarik untuk dibaca.

* Meramu tulisan dengan bahasa yang khas 

Menambahkan tulisan dengan bahasa yang khas. Kembali lagi tulislah dengan gayamu sendiri, apa adanya kamu.

Ternyata masih ada trik lanjutannya agar bisa menulis dengan cepat.

1. Duduk 10 menit sebelum kuliah dimulai 

2. Tulis narasi pembuka yang related to materi yang diberikan narasumber dan tulis narasi penutup yang memberikan kesimpulan dari pemaparan materi.  

3.Tulis resume dengan paragraf pendek-pendek 

4. Tulis pernyataan narasumber dengan gaya  bahasa paralelisme

Apa keuntungan bisa menulis cepat?

Kentungan jika resume kita selalu berada di urutan pertama, selain blog kita ramai dikunjungi, ternyata salah satunya juga bisa selalu mendapatkan hadiah kejutan berupa buku yang didapatkan dengan gratisan. Nah, kalau yang ini saya sangat tertarik, mendapatkan buku. Wah, kalau saya dapat hadiah buku pasti sangat senang karena bagi saya buku itu adalah hadiah terindah. Ciela.

Selanjutnya pesan narasumber Be Confident Writing in Blog.

√ Harus percaya diri

Agar percaya diri dengan tulisan sendiri, maka jangan silau melihat tulisan orang lain bagus. Jadilah diri sendiri dalam menulis. 

Kalau saya sendiri, pantang bagi saya melihat tulisan orang lain sebelum meng-upload tulisan saya. Ya, takutnya minder deluan sebelum mengirim, lantas pada akhirnya tidak jadi meng-upload tulisan. Setelah meng-upload tulisan, baru deh jalan-jalan ke blog tetangga.

√ Harus siap dengan kritikan

Kalau mau tulisan bagus maka harus siap dengan kritikan. Jadikan kritikan sebagai bahan untuk belajar, maka dari itu siapkan mental. Jangan sampai down.

√ Jadilah penulis blog yang Informatif nan Edukatif 

Tulisan yang baik tentunya, tulisan yang memberi manfaat. Maka dari itu tulislah sesuatu yang memberikan informasi serta edukatif.

√ Bangunlah Tulisan diberbagai Blog 

Buatlah blog lebih dari satu agar pembaca tidak merasa bosan dengan tulisan yang kita suguhkan. 

Wah, Alhamdulillah blog saya sudah dua, tapi sayangnya blog yang satu belum ada isinya dan rencana saya akan mengisinya dengan tulisan fiksi dan khusus blog ini saya jadikan blog untuk menampung tulisan non fiksi saya.

Setelah pemaparan materi ini, saya pun bersemangat untuk menjadi penulis resume yang pertama. Bisa, tidak ya? Emm pasti bisa. 


Terakhir untuk menutup materi yang luar biasa ini, ibu Maesaroh, M.Pd menutupnya dengan sebuah kalimat yang indah, “Jadilah manusia cerdas yang siap memberi perubahan.” 


Jadilah pemeran utama dalam dunia literasi_Marhani Kani


Tolitoli, 24 Januari 2022

Salam literasi.





 

Minggu, 23 Januari 2022

Blog dan Youtube Menjadikanku Guru Inspiratif Terbaik Tingkat Nasional

                  Blog dan Youtube Menjadikanku Guru Inspiratif Terbaik Tingkat Nasional



Resume ke-3

Wah, materi pada pertemuan ketiga ini semakin menarik saja. Pada bertemuan ini dengan tema Blog dan Youtube Menjadikanku Guru Inspiratif Terbaik Tingkat Nasional. Menarik, bukan? Ya, apa lagi yang sedang menekuni keduanya yaitu blog dan youtube, tentulah sangat tertarik mengikuti materi ini, siapa tahu saja bisa ketularan menjadi guru inspiratif tingkat nasional seperti ibu pemateri setelah menyimak materinya. Aamiin...

Saya sendiri masih belajar di dunia perbelogg-an dan peryoutube-an. Hehehe…, isi blog saya masih sangat sedikit begitu pun konten di youtube saya dan isinya pun campur aduk bagaikan gado-gado.

Well, pertemuan kali ini dipandu oleh ibu Rosminiyati sebagai moderator dan pemateri yaitu ibu Rita Wati, S.Kom.

 Ibu Rita Wati, S.Kom adalah merupakan guru Informatika di SMP Negeri 2 Mendoyo Kab. Jembrana Provinsi Bali. Selain itu beliau merupakan alumni Belajar Menulis PGRI gelombang 10.

Sebelum memasuki materi inti, ibu Rita Wati S.Kom menceritakan pengalaman awalnya bagaimana sehingga bisa menjadi Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Ternyata sederahana saja, yaitu berawal dari Mengikuti Kelas Belajar Menulis seperti pada kelas Belajar Menulis Gel. 23 ini.

Lalu, beliau bertanya kepada peserta Belajar Menulis, “Apa cita-cita tertinggi bapak/ibu setelah mengikuti kelas Belajar Menulis ini?” Kalau saya sediri, setelah mengikuti kelas Belajar Menulis ini saya berharap bisa menjadi penulis hebat dan sukses. Aamiin ya Rabbal a’lamin.

Ibu Rita Wati melanjutkan, “Begitulah cita-cita saya sewaktu mengikuti kelas BL ini. Sederhana hanya ingin menerbitkan buku solo dan tak pernah berpikir terlalu jauh. Begitu juga ketika saya menjadi peserta. Saya sangat salut dengan prestasi Narasumber sampai berkata dalam hati, ‘Hebat’ Apa bisa saya seperti itu? Ternyata saya bisa berprestasi seperti narasumber yang saya saluti.”

Kemudian ibu Rita menshare tentang pengalaman bagaiman perjalanan beliau menjadi penulis hingga menjadi curator, editor, dan sekarang diundang sebagai narasumber hingga menjadi juara Blog dan Guru Inspiratif Terbaik Nasional.

Pengalaman Menulis Ibu Rita Wati, S. Kom.

Awal mula ketertarikan ibu Rita dengan menulis sejak dua dekade lalu yaitu pada tahun 2001 di awal beliau menjadi mahasiswa. Pada ada saat itu beliau berteman dengan seorang penulis yang telah menerbitkan buku. Akan tetapi ibu Rita bingung, tidak tahu mau menulis apa dan bagaimana cara memulainya. Sehingga keinginan tersebut hanya keinginan yang terpendam tanpa eksekusi.

Empat tahun kemudian, di tahun 2005. Keinginan untuk menulis kembali berkobar dan akhirinya beliau menuliskan apa yang ada di pikirannya hingga menghasilkan bebarapa karya berupa cerpen, kemudian tidak sampai di situ saja beliau menulis telah berhasil menulis sebuah novel sebanyak 80 halaman. Namun, sayangnya belaiu tidak perya diri mempublikasikan karya-karya itu dan hanya dijadikannya komsumsi pribadi yang disimpan dalam folder rahasia yang tersembunyi. Ya, namanya juga rahasia pasti tersembunyi.

Pandemi pun datang dan mengubah semuanya, akhirnya ibu Rita mengikuti kelas Om Jay meski awalnya tidak tertarik dan hanya sekadar coba-coba saja. Lalu, hingga akhirnya ibu Rita menuliskan hasil resumenya dengan menggunakan hasil olah kata sendiri dan tak diduga ternyata itu mendapat apresiasi dari om Jay. Sejak saat itulah beliau semakin semangat untuk menulis. Hingga beliau telah berhasil menerbitkan 4 buku solo, 1 buku duet bersama prof Ekoji dan 10 buku antologi dimanan 5 di antaranya antologi yang menjadi curator serta editor lapis pertama dan 3 editor buku fiksi berupa cerpen dan novel karya peserta Belajar Menulis. Luar biasa, bukan?

Setelah menceritakan pengalaman, ibu Rita Wati pun  masuk ke materi inti tentang Blog dan Youtube Menjadikanku Guru Inspirasi Terbaik Tingkat Nasional. Materinya sangat singkat, namun tentunya sangat berisi, istilahnya daging semua.

Blog dan Youtube Menjadikanku Guru Inspirasi Terbaik Tingkat Nasional.

Ibu Rita wati memaparkan bahwa menjadi blogger dan youtuber bagi seorang guru sangatlah bermanfaat sebagai ilmu jariah atau amalan yang tidak terputus selama ilmu itu masih dipakai. Selanjutnya belaiu mengatakan, “Jika bapak/ibu serius menulis, tunggu saja kejutan yang akan hadir.”

Pada sesi pertanyaan sangat banyak pertanyaan yang masuk dan kesemua itu sangat menarik untuk disimak dan tentu saja diambil ilmunya. Di sesi pertanyaan ini, ibu Rita Wati memaparkan bagaimana menjadi blogger dan youtube yang baik

Menjadi Blogger dan Youtube yang Baik yaitu:

1.  Selalu update konten.

2. Dalam menulis di halaman blog sebaiknya 4 sampai 5 kalimat dalam satu paragrap.

Selanjutnya, agar tampilan blog lebih menarik yaitu tulislah ide dan gagasan dan sertakan dengan foto atau gambar yang mendukung ide dan gagasan tersebut.

Sebagai closing statement dari ibu Rita Wati, S. Kom, “Apa pun kata-kata negatif seperti pesimis, minder, mudah putus asa, tidak ada waktu dan yang lain-lain yang ada di pikiran. Silahkan ganti dengan kata-kata positif. Banyak kejutan jika kita menulis seperti apa yang saya rasakan saat ini. Teruslah menulis dan wujudkan cita-cita, tuangkan ide dalam tulisan biarkan tulisan itu menemukan takdirnya sendiri.”

Terakhir, quote motivasi dari ibu kita kartini, “Nothing is imposible in this world what we look upon today, tomorrow maybe acomplsihed fact.” Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika hari ini terlihat mustahil, besok bisa saja jadi kentaan.

 

Jelajahi dunia dengan membaca dan ubahlah dunia dengan menulis_Marhani Kani

 

Salam literasi

Marisa, 23 Januari 2022.

 

 

 

 

 

 

  

Rabu, 19 Januari 2022

Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Writing Is My Passion


Resume ke-2

Saya bersyukur pada pertemuan ke dua ini saya masih bisa ikut berpartisipasi, semoga semangat saya terus berkobar dalam menimbah ilmu dari pemateri-pemateri yang hebat di grup PGRI ini. Materi pada pertemuan kedua ini sangat menarik yaitu Menjadikan Menulis Sebagai Passion yang dipaparkan oleh ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd dan dimoderatori oleh ibu Helwiyah.

Materi dari ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd ini diawali dengan sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir.

Mengapa Menulis Menjadi Passion yang Menjanjikan?

Ada dua hal mendasar mengapa menulis itu menjadi passion yang menjanjikan. Apakah itu? 

Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir.

Hingga hari ini, profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara social.

√ Kendala dan Hambatan

Dalam mengerjakan apa pun tentunya tak terlepas dari yang namanya kendala dan hambatan, tak terkecuali dalam hal menulis. Ada beberapa kendala dan hambatan yang sering muncul dalam tahap menulis atau dalam menyelesaikan sebuah tulisan yaitu :

1. Merasa tidak bakat menulis

2. Tidak memiliki waktu

3. Tidak memiliki ide

4. Tidak mau dikritik

5. Tidak suka menulis


√ Mulai dengan pertanyaan “Mengapa?”

Untuk menjadikan menulis itu passion kita, maka kita harus menemukan alasan mengapa kita harus menulis. Ya, tanyakan pada diri kita sendiri mengapa harus menulis dan mengapa kita ingin menjadikannya passion kita? Setelah itu kita perlu mencari cara untuk bisa menulis dan selanjutnya kapan kita harus menulis. 

Setelah kita mempersiapkan diri kita menulis maka kita perlu action yaitu mulailah untuk menulis. Selanjutnya pemateri memaparkan langkah-langkah Menjadi Penulis yang Baik. Untuk itu kita perlu banyak belajar dan terus belajar. Nah, apa saja langkah-langkahnya? 

√ Langkah-langkah Menjadi Penulis yang Baik

1. Read 

Seorang calon penulis apa lagi ingin menjadi seorang penulis yang baik haruslah banyak-banyak membaca sebab kita ketahui memang membaca adalah salah satu sumber ilmu yang paling berpengaruh.

2. Discuss

Selain membaca diskusi diperlukan juga karena hal ini penting karena biasanya ide sering muncul dari hasil diskusi kita dengan orang lain. Kalau perlu kita mencari mentor yang tepat untuk membimbing dan membersamai kita dalam perjalanan menulis kita.

3. Look and feel

Di sini kita harus mengfungsikan panca indra kita. Lihat dan rasakan apa pun yang ada di sekitar kita.

4. Socialize

Berapa banyak pengetahuan, pengalaman dan kisah orang lain yang dapat kita serap.


√ Wariting Preperetion

1. Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide 

2. Menentukan Tujuan, Genre, dan Segmen       Pembaca 

3. Menentukan Topik 

4. Membuat Outline

5. Mengumpulkan Bahan Materi / Buku  


Setelah menyelesaikan naskah kasar dari buku yang kita tulis (rough draft), tahapan yang harus dilewati hingga terbitnya buku kita adalah:

* Editing 

Di tahap editing ini kita perlu membaca ulang naskah yang telah kita tulis, lalu setelah itu menyempurnakan naskah itu.

* Revising

Dalam tahap revising kita merevisi naskah yaitu mengubah atau menambahkan. Mungkin saja ada hal-hal yang perlu kita ubah atau pun ditambahkan, selanjutnya mengevaluasi naskah itu agar nihil kesalahan tulis dalam arti tidak terdapat lagi kesalahan penulisan di dalam naskah kita.

* Publishing

 Publishing ini, prosesnya mulai dari pengiriman naskah, lalu peracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading) kemudian pencetakan, promosi dan distribusi.


Sebagai penutup dalam pertemuan ini pemateri memberikan closing statement, “Menulis buku adalah pekerjaan mulia. Jadikan menulis sebagai passion. Jangan pernah takut tulisan jelek atau tidak ada yang membaca. Tetaplah berada di komunitas literasi. Ikut nubar (nulis bareng) di buku antologi sebagai jembatan menjadi penulis buku solo.


Jelajahi dunia dengan membaca dan ubahlah dunia dengan menulis__Marhani Kani


Salam literasi

Tolitoli, 19 Januari 2022


Memberikan Pendidikan Tentang Seks Kepada Anak Sejak Dini

Memberikan Pendidikan Tentang Seks Kepada Anak Sejak Dini. Oleh Marhani Kani Kali ini saya akan menulis hal yang serius dan mungkin sebagian...